[Cerpen] Sutra Ksatria Kelima


Wajib baca!
:
Cerpen ini adalah asli karangan saya yang sudah selesai saya tulis lebih dari dua minggu yang lalu. Sebagai informasi cerpen ini sudah pernah saya kirim ke www.cerpenmu.com pada tanggal 31 Maret 2014 dan belum ada kabar tanggapan hingga sekarang. Oleh karena itu saya berinisiatif untuk mem-posting cerpen ini di blog saya. Jika setelah postingan ini cerpen ini muncul di www.cerpenmu.com maka kemungkinan dikarenakan keterlambatan moderasi atau seleksi. Dengan begitu jika cerpen ini nantinya muncul di www.cerpenmu.com maka itu bukanlah sebuah plagiat karena memang sudah seizin penulis. Thanks...

Suara gemuruh terdengar tanpa henti diluar desa, para iblis Mara sedang menyerang dunia Agnimatra. Kejadian ini sudah berlangsung tujuh hari dan seluruh penduduk desa Mandara mulai panik. Agnimatra adalah dunia dimana manusia dan iblis terhubung langsung dan saling memperebutkan tempat. Di Agnimatra setiap tempat terhubung dengan portal sihir yang tidak semua orang bisa melewatinya. Desa Mandara adalah desa paling depan, sehingga paling rawan terhadap serangan iblis Mara.

Pada catatan sejarah desa Mandara tertulis mitos bahwa iblis mara bisa dikalahkan setelah lahirnya lima ksatria sakti yang biasa disebut “ legenda lima ksatria”. Menurut informasi dari para tetua Mandara lima ksatria tersebut terdiri dari ksatria penghancur, ksatria penyihir, ksatria penyembuh, ksatria penyelinap, dan ksatria penembak. Apvas adalah keturunan terakhir suku Naga yang merupakan ksatria penghancur di dunia Agnimatra. Dia sekarang adalah ketua pertahanan di desa Mandara.

Penduduk Mandara percaya bahwa mereka sudah mempunyai tiga ksatria lain selain Apvas dalam legenda tersebut. Meskipun akan sulit dibuktikan sebelum ksatria kelima lahir. Vananta adalah penyihir manusia paling sakti yang pernah ada, dia dipercaya keturunan suku Deva yang merupakan ksatria penyihir. Kemudian orang yang dipercaya sebagai ksatria penyembuh adalah Karan. Dia bukan orang yang pandai berperang, tapi dia adalah penjual obat dan sangat mahir dalam membuat ramuan. Konon katanya leluhur Karan dari suku Yaksa mampu menghidupkan orang yang sudah mati. Ksatria ke-empat yang disebut-sebut di Mandara sebagai ksatria penyelinap adalah Buvan. Dia satu-satunya orang di dunia Agnimatra yang punya kemampuan menghilang. Buvan adalah keturunan suku Ashura yang mempelajari kitab ilmu menghilang warisan leluhurnya.

Menurut catatan, ksatria kelima yaitu ksatria penembak adalah seorang ksatria yang sangat mahir menggunakan panah. Dikisahkan ksatria pemanah ini mampu menembakkan panah api dan bisa mendatangkan hujan panah dari langit. Di sejarah tidak diceritakan secara jelas suku dari ksatria pemanah, ada yang mengatakan suku Elf. Sayangnya suku Elf sudah lama punah di dunia Agnimatra. Tempat tinggal suku Elf berada di hutan sebelah timur Mandara, yang konon sudah hancur ribuan tahun lalu karena diserang iblis Mara. Seluruh anak-anak di Mandara sudah dilatih memanah sejak kecil dengan harapan akan muncul ksatria kelima. Selama puluhan tahun tidak ada satupun anak yang mempunyai keahlian spesial dalam memanah.

Sepuluh tahun sebelumnya iblis Mara sudah pernah menyerang mandara, namun Apvas yang memimpin para pemuda mampu menahan serangan tersebut. Banyak korban berjatuhan saat itu, dan beruntung iblis Mara berhasil di usir. Iblis Mara tidak akan pernah bisa mati sebelum rajanya dibunuh dan semakin hari mereka semakin kuat. Mereka hidup dari kekuatan hitam rajanya. Salah satu raja iblis Mara bernama Serbinda. Empat ksatria mandara Apvas, Vananta, Karan, dan Buvan tidak pernah bisa mendekati Serbinda, ada kekuatan besar yang tidak bisa mereka lewati. Bahkan sihir Vananta yang terkenal sangat kuat tidak mampu menembusnya.

Memasuki hari kedelapan suara gemuruh terus terdengar, Apvas mulai sibuk menyiapkan pasukannya. Seluruh warga Mandara dikerahkan untuk membangun pertahanan desa. Seluruh prajurit juga sudah disiapkan untuk berjaga. Mereka membangun pertahanan paling kuat dari segala kemungkinan yang mungkin terjadi.

“ Aku butuh empat sukarelawan untuk menemaniku melihat kondisi hutan disekeliling Mandara “ : teriak Apvas dengan suara keras di depan kumpulan warga.

“ Biarkan aku menemanimu Apvas, aku bisa berlari lebih cepat dari yang lain dan bisa membantu memeriksa jalan yang akan kamu lalui ” : sahut Buvan.

“ Baiklah, karena kamu yang ikut kita hanya perlu dua sukarelawan lagi. Kita berangkat sore ini juga, siapkan bekal perjalanan kalian ” : jawab Apvas tegas.

Mereka berempat berangkat untuk memeriksa daerah sekeliling Mandara untuk memastikan seberapa dekat dan besar pasukan iblis Mara. Mereka menyusuri dataran tinggi di sebelah timur laut Mandara hingga hutan di sebelah timur. Di hutan inilah mereka bermalam, hutan yang dulu katanya adalah tempat tinggal para Elf. Mereka memasang tenda di bawah sebuah pohon yang cukup besar.

“Kalian semua tidurlah dulu, aku akan berjaga” : kata Apvas.

Buvan dan dua pemuda lainnya Man dan Kim mulai masuk ke tenda dan bersiap tidur. Mereka hanya menyisakan satu obor kecil di luar untuk penerangan Apvas. Setelah beberapa kali memeriksa sekeliling tenda Apvas meletakkan kapak besarnya dan sepertinya ingin duduk bersandar di sebuah pohon disebelah tenda. Dia duduk sambil melamun, teringat dengan tulisan-tulisan sejarah di desanya. Di kepalanya selalu berkecamuk pertanyaan yang sama selama delapan hari terakhir ini.

“ Apakah benar legenda lima ksatria itu ada? Dimanakah engkau kawan, wahai sang pemanah, bagaimana aku menemukanmu?

Malam semakin larut, mata Apvas mulai berat. Sesekali kepalanya terangguk karena kantuk. Seperti bermimpi tetapi setengah sadar. Kemudian tiba-tiba Apvas seperti mendengar suara. Sebuah suara gerakan, dia berusaha berdiri dan mengambil kapak besarnya. Sambil melihat ke sekeliling dan tetap siaga, dia tidak berniat membangunkan Buvan dan yang lain.

“roaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.......”: Tiba-tiba dari belakang ada makluk yang menyerang Apvas sambil mengeram.

“Awhhhh.....” : Teriak Apvas sambil tersungkur ke depan.

Ternyata seekor serigala besar bermata merah telah menyerangnya, dan sudah bersiap untuk menerkam lagi. Apvas berdiri dan memasang posisi siap bertarung. Dia saling tatap mata dengan serigala yang siap menerkamnya itu. Dengan langkah mantap Apvas maju dan mengibaskan kapak besarnya.


“hiatttttttttttttttt.....”: Teriak Apvas.

“wussssssssssshhhhh...” : tebasannya kena angin, serigala tersebut sangat gesit.
Serigala dan Apvas saling berpandangan sambil sama-sama berjalan memutar. Terlihat darah keluar dari bahu Apvas, luka terkaman yang pertama tadi. Tiba-tiba ada bayangan dari  arah belakang serigala melesat ke arah serigala.

“ jleb...jleb...”: kemudian Serigala tersebut jatuh ke tanah sambil mengeram.

“ roarrrrrrrrr,......” : suara kesakitan serigala yang kemudian diam tak bergerak.

Dari bayangan yang tadi dilihat Apvas perlahan terlihat ada dua buah pisau yang sudah menancap di jantung dan leher serigala. Kemudian muncul wajah seseorang dengan pakaian yang tidak asing bagi Apvas.

“ Buvan...?! “ : kata Apvas sedikit terkejut.

“ Ya Apvas, maaf aku sedikit terlambat bangun tidur “ : sahut Buvan sambil tersenyum.

“ Binatang itu adalah Vasabum. Serigala yang sudah dipengaruhi kekuatan iblis Mara. Apakah kamu membawa ramuan yang diberikan Karan? Sepertinya bahumu terluka“ : lanjut Buvan.

“Ya aku membawanya. Terimakasih, serigala itu terlalu gesit untukku “: jawab Apvas.

“ Bangunkan teman-teman kita, sepertinya matahari mulai terbit “: tambah Apvas sambil mengoleskan obat ramuan pemberian Karan ke lukanya.

Mereka berempat kemudian melanjutkan perjalanan ke selatan. Mereka lebih hati-hati kali ini, serangan Vasabum semalam menandakan bahwa iblis mara sudah mulai mempengaruhi binatang. Jika semua binatang bisa dipengaruhi iblis mara maka artinya adalah peperangan yang buruk untuk Mandara dan dunia Agnimatra. Seharian menyusuri daerah selatan mereka akhirnya sampai di bagian barat daya Mandara. Mereka berniat untuk mencari tempat yang aman untuk bermalam, tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti. Didepan mereka ada puluhan kera putih dengan mata yang sudah memerah. Kelompok Varaha, kera putih bermata merah dan bertaring panjang yang berada dibawah kendali kekuatan iblis Mara.

“ Apvas, ada banyak Varaha disini “ : bisik Buvan pelan.

“ Kita tidak akan bisa menghindar dari mereka, satu-satunya pilihan adalah melawan jika mereka menyerang kita “ : sahut Man dan Kim, kedua pemuda teman Buvan dan Apvas.

“ Jumlah mereka puluhan, aku melihat ada sungai di seberang sana. Bagaimana jika kita coba lari mencapai sungai dan melompat? “ : usul Apvas.

“ Baiklah biarkan Man dan Kim duluan” : jawab Buvan.

“ Kamu duluan Buvan, disusul Man dan Kim. Aku akan melindungi kalian dari belakang” : sahut Apvas.

Dengan gesit Buvan mulai berlari kearah Varaha, jika mereka bisa melewati Varaha dan melompat ke sungai mereka akan selamat. Dengan pisau di kedua tangannya Buvan membabat Varaha didekatnya sambil berlari layaknya seorang assasin. Di belakangnya diikuti Man dan Kim. Apvas ada di barisan paling belakang sambil mengibaskan kapaknya pada Varaha yang mengeroyoknya. Diluar dugaan banyak Varaha lain yang berdatangan sehingga memaksa mereka untuk berhenti dan bertarung dengan para varaha tersebut.

“ jleb,....crottt....crashhhh....bughh....” : terdengar suara hujaman senjata Apvas, Buvan, Man, dan Kim mengenai para Varaha.

Banyak Varaha berjatuhan tapi mereka masih terlihat sibuk bertarung. Makin lama makin banyak Varaha yang mati, sampai kemudian beberapa Varaha yang tersisa kabur. Apvas dan Buvan terlihat berlumuran darah Varaha di tangannya. Tiba-tiba terdengar suara, seperti ada seseorang sedang berusaha membangunkan orang lain.

“ Man ...!!!! bangun Man!! Bertahanlah...” : Terdengar suara Kim sambil menangisi saudara kembarnya.

Man terkena cakaran beberapa Varaha di lehernya, dia mengalami pendarahan hebat. Obat yang dibawakan Karan tidak mampu lagi menolongnya, lukanya terlalu berat. Mereka bertiga terlihat sangat sedih.

“ Sudahlah Kim, ini sudah kehendak dewa. Kita harus segera menguburkannya, relakan saudaramu pergi “ : Apvas berusaha menabahkan.

“ Dia berkorban untuk sesuatu yang lebih besar Kim, ingat Mandara sedang membutuhkan kita, Agnimatra membutuhkan kita” : Buvan menambahi.

Kemudian mereka menggali tanah didekat aliran sungai di barat Mandara itu. Selesai menguburkan Man dan berdoa mereka berniat mendirikan tenda di dekat sungai itu juga. Apvas sibuk memasang tenda dengan Kim.


“ Aku akan mengisi bekal air kita ke sungai “ : Buvan berkata seraya berjalan menuju sungai.

Belum selesai Apvas dan Kim memasang tenda, tiba-tiba terdengar suara teriakan Buvan dari arah sungai.
“ Apvas...!!!!!!! Kim....!!!!!! kemarilah, ada sesuatu di sungai “ : teriak Buvan dari sungai yang terdengar menggema di malam hari itu.

Apvas dan Kim berlari ke sungai menhampiri Buvan. Ada sebuah kotak mengapung disungai itu. Kim mencoba berenang ketengah untuk menariknya. Terlihat samar di dalam kotak yang ditarik Kim seperti ada seorang anak yang terbungkus selembar kain. Iya benar, itu seorang anak laki-laki yang sangat cerah kulitnya. Mereka kemudian mengangkatnya dan membawanya ke tenda. Mereka menginap di tenda malam itu, kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Mandara pagi harinya dengan membawa seorang bayi laki-laki. Selama di perjalanan pulang Apvas yang menggendong bayi yang mereka temukan. Dia memandangi bayi tersebut disepanjang perjalanan.


Di depan mereka samar-samar sudah terlihat gerbang barat desa Mandara, artinya mereka sudah sampai dirumah. Sesampainya digerbang mereka sangat terkejut, beberapa bagian benteng sudah rusak dan ada banyak bekas pertempuran. Terlihat penjaga gerbang berlari ke dalam desa, sepertinya akan memberitahu warga yang lain kalau Apvas sudah kembali. Apvas segera berjalan menuju ke tengah desa. Dia menuju ke papan pengumuman di dekat pohon beringin besar di tengah desa. Mereka bertiga berjalan dengan ekspresi muka penuh tanda tanya. Sebenarnya apa yang terjadi.

“ Wahai saudara-saudaraku, apa yang terjadi di desa? “ : tanya Apvas keras kepada para warga yang menyambut kedatangan mereka sambil menggendong bayi.

“ Setelah kepergian kalian, desa diserang banyak kawanan hewan buas. Kami sudah berusaha semampu kami untuk melawan dan mempertahankan desa “ : jawab seorang penjaga gerbang mewakili warga.


“ Hewan-hewan itu bermata merah, mereka seperti diperintah oleh suatu kekuatan” : tambah warga lainnya.

“ ya, hewan-hewan itu telah dipengaruhi oleh kekuatan iblis Mara. Kita juga mendapat serangan di perjalanan” : jawab Apvas sambil menunjukkan luka di bahunya.

“ Aku juga ingin menyampaikan kabar duka, bahwa Man telah meninggal saat kami di serang di hutan barat Mandara. Di sungai di dekat makam Man, kami menemukan seorang bayi laki-laki yang aku tidak tahu darimana asalnya” : lanjut Apvas sambil memperlihatkan senyuman bayi pada warga.


Kemudian ada orang yang datang dari belakang membelah keramaian. Dia menghampiri Apvas dan bayi itu. Ya tidak asing lagi, dari gaya berjalannya yang anggun dan pelan, dia adalah Vananta.


“ Bayi yang sangat tampan, dibungkus dengan selembar kain sutra. Bagaimana jika bayi ini kuberi nama Sutra “ : Kata Vananta kepada semua orang yang ada disana.

“ Kamu adalah pemimpin segala macam upacara di desa ini Vananta, kita semua pasti setuju denganmu. Bukankah begitu saudara-saudaraku??!!!” : jawab Buvan

“setujuuuuuuuuuuu...Sutra!!!!!” : jawab warga serentak.

“ Baiklah biarlah Sutra di rawat oleh Kirika, dia sangat menyukai anak kecil dan dia tidak punya anak. Kita akan memperbaiki beberapa benteng yang rusak, untuk berjaga-jaga kemungkinan serangan susulan” : Apvas menjawab seraya memberi perintah.

Hari itu warga Mandara beramai-ramai menyiapkan kembali pertahanan mereka. Karan terlihat sibuk membuat banyak sekali obat-obatan untuk mengobati prajurit yang terluka karena serangan kemarin. Suara gemuruh terdengar makin hari makin keras, pertanda pasukan iblis Mara semakin mendekat. Seluruh warga panik, mereka menyiapkan semua perlengkapan perang.


Tidak disadari tujuh hari sudah Sutra tinggal bersama Kirika. Selama itu juga sering terjadi serangan-serangan binatang buas yang semakin hari semakin ganas. Dan ternyata terjadi keanehan dengan pertumbuhan Sutra. Dia tumbuh sangat cepat tidak seperti bayi pada umumnya. Selama tujuh hari dia tinggal bersama kirika Sutra sudah bisa berlari dan berbicara layaknya anak umur lima tahun. Kejadian itu membuat Vananta bingung, karena memang belum pernah ada kejadian demikian sebelumnya. Vananta dengan kekuatan sihirnya berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan Sutra. Bahkan Karan yang biasanya sibuk membuat ramuan ikut membongkar seluruh isi perpustakaan desa. Dia berharap ada legenda yang ditemukan di salah satu kitab di perpustakaan. Hingga akhirnya Karan menemukan sebuah kitab yang menceritakan kaum Elf. Di kitab itu diceritakan bahwa kaum Elf adalah keturunan campuran antara manusia yang menjalin hubungan dengan dewi Vishnu. Mereka memiliki telinga memanjang dan sedikit runcing, berparas elok, dan berbadan ramping. Dan ciri-ciri yang disebutkan itu sangat mirip dengan yang di miliki Sutra, si anak ajaib yang yang tumbuh sangat cepat.


Di dunia Agnimatra, seorang prajurit atau ksatria muda yang mengasah ilmu beladirinya akan mendapatkan chakra. Chakra akan semakin meningkat seiring dengan kekuatan beladiri seseorang. Selain meningkatkan kekuatan, chakra juga berguna sebagai kekuatan untuk menembus portal sihir yang menghubungkan antar desa. Apvas pernah mengatakan, jika kondisi Mandara sangat buruk maka warga bisa melarikan diri ke desa Sambala. Desa yang berada di lapisan kedua setelah Mandara. Untuk menembus portal sihir menuju Sambala membutuh kekuatan chakra tingkat 20. Anak-anak rata-rata hanya mampu meningkatkan chakranya dua chakra setiap tahun, maksimal tiga chakra untuk mereka yang sangat berbakat. Jadi jika kondisi sangat buruk, maka kemungkinan anak-anak dibawah sepuluh tahun tidak akan bisa menembus portal sihir, yang artinya tidak akan bisa pindah ke desa Sambala.


Sebulan sudah perang terus berlangsung, pasukan binatang buas tidak henti-hentinya menyerang Mandara. Bahkan sesekali ada pasukan iblis yang ikut menyerang. Seiring dengan semakin rusaknya desa Mandara, Sutra tumbuh semakin cepat. Di usianya yang belum ada dua bulan dia sudah tumbuh menjadi seperti anak laki-laki berumur 15 tahun. Yang mengejutkan sekaligus membuat warga Mandara senang adalah meningkatnya chakra Sutra yang juga sangat cepat. Warga sangat percaya bahwa bayi yang ditemukan Buvan di sungai itu adalah ksatria pemanah yang selama ini menjadi legenda lima ksatria.


Sutra sering belajar beladiri di rumah Vartan selama dia tinggal di Mandara. Vartan adalah satu-satunya pandai besi di Mandara. Dari sejak dia bisa berjalan beberapa minggu lalu, Apvas sudah menganjurkan Sutra untuk belajar memanah saja. Sutra sangat menyukai panah, dan belajar dengan sangat cepat. Menurut keterangan yang diberikan Vartan, Sutra sudah mampu mengangkat busur panah tingkat 50. Senjata-senjata buatan Vartan biasanya hanya bisa digunakan bagi mereka dengan chakra yang cukup. Senjata tingkat 50 seharusnya hanya orang dengan chakra minimal tingkat 50 juga untuk bisa menggunakannya. Artinya Sutra sudah memiliki chakra diatas tingkat 50, dan itu sangat menakjubkan melihat umurnya yang belum ada dua bulan.


Kondisi Mandara semakin memburuk, sudah dua hari ini mandara di serang Mlechas. Mereka menyerang dengan melamparkan batu-batu dari depan gerbang, ini sangat merepotkan. Mlechas adalah sejenis monyet yang membawa karung berisi batu di punggungnya. Menurut prediksi Vananta, jika para Mlechas sudah menyerang maka tidak lama lagi akan ada penyerangan besar-besaran. Hal ini sangat mengkhawatirkan, harapan satu-satunya adalah legenda lima ksatria. Seluruh warga Mandara sangat mengharap dan menunggu Sutra hingga siap menjadi ksatria kelima. Para legenda ksatria konon ceritanya adalah ksatria yang mempunyai chakra sangat tinggi sehingga bisa menggunakan senjata kristal. Senjata yang terbuat dari kristal yang didapat dari membunuh Raphu, seekor raja monster disebuah kerajaan dilangit. Seluruh warga Mandara tidak ada yang pernah melihat Raphu. Tetapi di Mandara sudah ada empat senjata kristal warisan leluhur, dan satu kristal wariskan yang di persiapkan untuk membuat busur kristal. Busur kristal tersebut sudah berhasil dibuat Vartan. Senjata-senjata kristal ini adalah senjata tingkat 70, senjata yang sangat tinggi tingkatannya. Hanya orang yang sangat berbakat dengan chakra minimal tingkat 70 yang mampu menggunakannya.


Sutra semakin hari semakin kuat, tetapi dia tetap belum bisa mengangkat busur kristal. Sedangkan Mandara sudah terancam jebol, benteng timur dan selatan sudah hancur. Seluruh warga dan prajurit yang tersisa berkumpul di benteng barat, di dekat rumah Vartan. Sedangkan Sutra masih berjuang keras untuk mengangkat busur kristal.

Hari ini mungkin adalah hari terakhir bagi warga Mandara. Sebagian besar desa sudah hancur, pasukan iblis mara sudah datang menyerbu bersama Mlechas, Varaha, dan Vasabum. Terdengar samar-samar suara Serbinda, salah satu raja iblis Mara. Suara itulah yang menggetarkan jantung setiap warga yang tersisa. Suara yang menyiutkan nyali, menghilangkan harapan hidup, dan menimbulkan rasa putus asa.


Apvas berdiri tegak dengan membawa kapak kristal yang dipegang dengan kedua tangannya. Vananta membawa tongkat kristal yang selalu membaca mantra sihirnya untuk memperkuat benteng. Buvan mengeluarkan semua ilmu ninjanya, tubuhnya terlihat seperti bayangan berdiri disebelah Apvas dengan dua bilah keris kristal. Karan tidak ketinggalan, dengan banyak botol kecil di sekujur pakaiannya dia membawa banyak ramuan ajaib. Sedangkan Sutra yang dari fisik terlihat seperti anak remaja 20 tahunan, terlihat paling muda dan tidak banyak bicara. Dia tidak membawa senjata, hanya banyak anak panah di bawa dipunggungnya. Sebentar, ternyata di depan Sutra ada sebuah busur kristal yang masih berusaha dia angkat.


Busur kristal ada di sebuah gerobak kecil, sepertinya Sutra sudah bisa mengangkatnya beberapa meter. Tapi dia belum bisa menggunakannya, terlihat masih terlalu berat. Dia meletakannya kembali kemudian dia mengambil busur tingkat 50 dan berdiri disebelah Buvan.

“ kita akan pertahankan desa kita sampai darah terakhir” : kata-kata penyemangat terdengan dari mulut Apvas.


“ Ayo kita maju, hajar mereka..!!!! ”: tambah Buvan sambil melesat kedepan dengan garang.


Akhirnya perang pun tak terhindar dari kedua pihak. Terlihat Apvas menebaskan kapak kristalnya membabi buta. Vananta dan Sutra tetap dibelakang menyerang dari jarak jauh. Terlihat Vananta mengeluarkan sihir apinya membakar para Mlechas. Mereka semua berperang dengan sangat berani.

“ Ciup.....jleb....ciuppp...jleb....ciuppp...jleb... “ : suara anak panah Sutra yang terus menghujam Varaha dari belakang.

“ Ngleeegerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.......” : Vananta mengeluarkan hujan petir ke area perang.

Peperangan berlangsung sengit hingga berjam-jam. Terlihat pasukan mara mulai terpukul mundur. Apvas dan Buvan terlihat menusuk kedepan mendekati Serbinda. Mereka berdua sepertinya berusaha menyerang Serbinda. Serbinda berbentuk manusia dengan dua tanduk di kepalanya. Ukurannya tubuhnya besar dengan tinggi lebih dari tiga meter. Kulitnya berwarna hijau dan bertubuh kekar dengan senjata sebuah gada (sebuah pentungan).

“ Hei Apvas....!!! menyerahlah...percuma kalian melawan, kekuatanku sekarang sudah hampir sempurna “ : terdengar suara Serbinda menggelegar.

“ pasukanmu sudah hampir habis, tidak alasan bagi kami untuk menyerah” : jawab Apvas lantang setengah menantang.

Dari belakang, Vananta terlihat berbincang dengan Sutra.
“ Sutra, coba angkat lagi busur kristalmu kami membutuhkanmu sekarang “ : bisik Vananta pada Sutra.

Sutra terlihat berusaha keras mengangkat busur kristalnya. Busur itu sekarang terangkat sedikit lebih tinggi. Dia berusaha menggunakannya namun sepertinya masih terlalu berat. Vananta kemudian maju ikut berkumpul dengan Apvas dan Buvan. Mereka bertiga sepertinya akan menyerang Serbinda. Ya benar, mereka menyerang serentak.

“ wushhhhhhhh.....brughh..3x “ : mereka bertiga terpental terkena tebasan gada Serbinda.
“ Hahahaha...hanya segitu kemampuan kalian?! “ : tanya Serbinda mengejek.

“ lihat lingkaran yang mengitari tubuh Serbinda, itu adalah protek ilmu hitam yang tidak bisa kita tembus” : bisik Buvan pada Apvas dan Vananta.

“ hei, kalian minumlah ini. Ini adalah ramuan untuk memulihkan tenaga” : Karan datang bergabung dan memberikan ramuan pada yang lain.

Apvas, Buvan, Vananta, dan Karan mereka berempat berdiri bersama untuk melawan Serbinda. Mereka menatap Serbinda dengan tajam. Tiba dari belakang terdengar suara lesatan sebuah benda.

“ siuzzzzzzzpppttttttttttt.........................plak ” : ada anak panah dari belakang melesat ke arah Serbinda.
Anak panah itu memang tidak dapat menembus ke tubuh Serbinda tetapi, tenaga yang dihasilnya membuat Serbinda terdorong kebelakang satu langkah. Tampak terlihat ekspresi wajah Serbinda terkejut dengan kekuatan anak panah barusan. Dia melihat jauh di depannya dan terlihat Sutra sudah siap melepaskan anak panah berikutnya dengan busur kristalnya.

“ wushhhhhhhhh..............praakkkkk....” : kali ini anak panah melesat dengan kobaran api di ujungnya menuju Serbinda.

Lingkaran protek ilmu hitam Serbinda mulai pudar terkena panahan kedua Sutra. Apvas dan Buvan pun siap menyerang kedepan. Vananta terlihat sangat berkonsentrasi, sepertinya dia akan mengeluarkan sihir yang menakutkan.

“ wushhhhhhhhhhh  jlebbbb.......” : anak panah susulan dari Sutra berwarna hijau menembus lingkaran protek Serbinda sedikit berbelok dan mengenai tangan Serbinda.

“Argghhhhhh....” : Teriak serbinda kesakitan, karena panah yang barusan mengandung racun yang sangat kuat.

“ Siapa anak itu? Nampak seperti seorang Elf, bukankah kerajaan Elf sudah hancur ribuan tahun lalu” : gumam Serbinda seraya menatap jauh ke arah Sutra dengan pandangan bingung.

Tepat saat lingkaran ilmu hitam Serbinda hancur Apvas dan Buvan datang menyerang dengan membabi buta.
“ cringg.....crashhhhh....wuzzttt...bughhh..”: suara-suara serangan Apvas dan Buvan.

Serbinda terlihat kewalahan menahan serangan Apvas dan Buvan, dia terlihat terhuyung. Vananta yang dari tadi berkonsentrasi ternyata tiba-tiba dari tangannya keluar api. Dia menggerakkan tangannya memutar kemudian seketika itu dari langit turun hujan meteor kearah Serbinda. Apvas dan Buvan coba bergerak agak mundur untuk menhindari api.

“ tidakkkkk......” : terdengar Serbinda berteriak kesakitan sambil terhuyung bingung.
Kemudian jauh dari belakang Apvas melesat banyak sekali anak panah.
“ sreeettttttttttt......sreetttttttt.......sretttttttttttt...sretttttttttttttttt...sretttttttttttt..... jleb 5x” : lima anak panah beruntun menghujam di tubuh Serbinda.

“ brugh....” : Serbinda jatuh berlutut.

Terlihat Sutra sudah mengarahkan panahnya lagi ke arah Serbinda sambil setengah duduk dengan konsentrasi tingggi. Anak panahnya menyala terang siap ditarik sekuat-kuatnya oleh Sutra. Dan sesaat kemudian.

“ wuzzzzzzzzzzzzzzzzztt nginggggggggggggggg...........jlebbbbbb!!! “ : anak panah menyala berkilau melesat sangat cepat tepat mengenai jantung Serbinda.

“ Brughh....bruzzzzzzzzhhttt “ : Serbinda terjatuh tersungkur kedepan, mukanya menumbuk tanah dan tidak bergerak lagi.

Apvas, Buvan, Vananta, dan Karan mengacungkan jempol ke arah Sutra. Sambil setengah berbisik mereka mengatakan: “ Good job “

Kemudian mereka bersama-sama menghampiri Sutra dan berpelukan. Warga yang selamat terhuyung-huyung menghampiri mereka dengan wajah gembira.

Sesudah kejadian itu mereka seluruh warga yang tersisa bekerja bersama-sama. Mereka membersihkan desa dan bertahap membangun kembali desa mereka. Mereka sekarang merasa lebih aman karena  lima ksatria legenda hidup ditengah-tengah mereka.

SELESAI

Comments