Menghidupkan kembali Rumah "Limasan" (rumah tradisional jawa tengah)

Keluarga dari ibuku berasal dari daerah Wonogiri Jawa Tengah, lebih jelasnya dari desa Dawungan kecamatan Jatiroto, mungkin sobat-sobat goblog ada yang tahu. Beberapa bulan sebelum aku tulis artikel ini aku membeli sebuah rumah tua di sana. Kebetulan ibuku adalah pewaris keluarga, jadi kita punya rumah dan pekarangan warisan di sana. Meskipun orangtuaku sekarang tinggal di Jogja dan aku sendiri sedang menuntut ilmu di Bandung tetapi kita masih sering berkunjung bahkan menginap di Wonogiri kalau ada kesempatan liburan bersama.

Secara teknis rumah warisan kakek-nenek di wonogiri sebenarnya sudah tidak ada, karena kami sudah membangun bangunan baru disana. Dulu rumahnya adalah rumah limasan atau sering disebut juga joglo limasan. Rumah adat jawa peninggalan kakek-nenek sudah kita robohkan dan kita bangun bangunan baru (rumah modern), beberapa kayu sisanya aku gunakan untuk bangunan yang baru tersebut, sehingga sudah tak berbekas. Sebenarnya masih banyak isi rumah itu yang merupakan barang-barang lama alias barang-barang jaman kakek-nenek dulu, Namun lambat laun barang-barang tersebut mulai tergantikan dengan barang-barang baru yang kita beli. Dalam hati kecilku terketuk, bertapa sayangnya jika barang-barang peninggalan leluhur harus hilang ditelan waktu. Akhirnya ada inisiatif untuk mengumpulkannya, yang kalau bahasa alay-nya pura-puranya mau bikin museum kakek-nenek kecil-kecilkan, hehehe...

Kebetulan sekali beberapa bulan lalu ada informasi bahwa ada rumah limasan tua mau dijual. Setelah saya datangi , lihat-lihat, dan negosiasi dengan si pemilik akhirnya rumah tersebut sudah menjadi milikku. Kondisinya lumayan bagus, kerangka besar rumah masih bagus, hanya saja beberapa gebyok, reng, dan usuk harus diganti karena sudah keropos. Dan akhirnya pada hari jumat pahing tanggal 23 Mei 2014 rumah tersebut sudah berhasil di dirikan dengan upacara adat jawa di pekarangan keluarga di wonogiri. Walaupun cukup menguras tabungan tapi rasanya puas melihat rumah tersebut, muncul harapan bahwa rumah yang dulu dihuni kakek-nenekku hidup kembali. Banyak biaya aku keluarkan untuk menyiapkan lahan, karena memang di wonogiri area pegunungan jadi lahannya memang tidak rata. Biaya tambahan lain yaitu untuk membeli genteng dan kayu untuk usuk dan reng. Biar sobat-sobat globlog ngga penasaran nih penampakannya, lihat pada gambar 1.

Gambar 1. Rumah limasan saat selesai di dirikan

Karena gentengnya campur, setengah genteng lama yang warnanya sudah hitam, dan setengahnya baru aku beli ( teteapi aku buat seregam ukuran dan bentuk gentengnya). Maka dalam pemasangan genteng aku buat selang-seling sehingga hasilnya seperti papan catur. Hasil setelah genteng dipasang bisa di lihat pada gambar 2.

Gambar 2. hasil pemasangan genteng

Masih banyak detail yang harus diselesaikan, rencananya seh semua dinding (gebyok) tetap akan menggunakan aslinya. Meskipun banyak terdapat ukiran alam hasil karya rayap, tetapi menurutku justru itu membuat rumah ini menjadi semakin eksotis. Semua gebyok sudah di setting ulang, tinggal melakukan sedikit perbaikan supaya kuat kembali dan finishing dengan polesan mowilex. Kalau melihat gambar 2, wuwung atau kerpusnya belum ada. Wuwung sedang dalam pemesanan, karena aku ingin menggunakan wuwung klasik jadi harus pesan dulu karena sekarang sudah tidak ada yang produksi.

Mengintip ke bagian dalam rumah, seluruh rangka rumah masih terlihat ngejreng dengan warna khas kayu jati. Penampakan indahnya rangka rumah bisa dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Penampakan kerangka rumah dari dalam


Bagaimana sobat-sobat? Masih indah bukan, hehehe...
Meskipun dinding atau pada rumah limasan sering disebut patang aring belum dipoles, tetapi sudah terlihat eksotis dan menawan. Foto lain yang diambil dari sudut berbeda dapat sobat-sobat lihat pada gambar 4.

Gambar 4. Patang aring belum di poles ulang

Kalau di perhatikan pada gambar 4, ada sebuah pintu dengan hiasan kolom tengah. Pada rumah limasan pintu tersebut biasa disebut tebeng, yaitu pintu ke ruang tengah yang di jawa biasanya di gunakan untuk berdoa (kepercayaan jawa).

Dan itulah sedikit ceritaku buat sobat-sobat goblog semua, mohon doanya semoga apa yang aku rencanakan bisa segera diselesaikan. Buat sobat-sobat yang ingin berkunjung kemari boleh saja, silahkan menghubungi saya melalui kontak blog. Owh iya, di daerah wonogiri di tempat rumah ini saya bangun ada banyak pegunungan dengan ukuran medium, mungkin buat sobat-sobat yang ingin berkunjung ke rumah limasan saya sekaligus mau hiking ke gunung sangat cocok. Masalah biaya nanti bisa di diskusikan hehehe....

Sekian dulu sobat-sobat, terimakasih...

Salam Garuda !!



Comments

  1. Wow keren mas rumah limasannya gentengnya itu lho gaul abis. Berapa mas harga rumah limasannya? Bagus juga tuh genteng rumah joglo dibikin spt itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mas, website mas juga bagus dan banyak menyampaikan informasi pembuatan rumah limasan. Apakah mas Ahmad juga menerima penjualan rumah limasan tua?

      Delete
  2. Mas, ukuran panjang x lebar (garis terluar) rumah nya berapa ya? sy sedang berencana mbangun rumah limasan..
    matur nuwun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang punya saya ini ukuran rumahnya 10m x 12m , blm termasuk teras. Ini terasnya saya buat dua teras dengan lebar 2m mungkin dengan persiapan tritisan sekitar 40 cm. Jadi panjang x lebar terluar rumah kira-kira ya 12,5 m x 14,5 m mas. Semoga membantu.

      Delete

Post a Comment