3 Alasan Pedagang Tionghoa Lebih Sukses!

Sudah sejak lama banyak orang membicarakan tentang teman-teman Tionghoa atau biasanya banyak juga yang menyebut China. Kebanyakan yang dibahas adalah isu rasisme yang menurutku seh ga penting banget. Nah, daripada membahas rasisme yang tidak sepatutnya sebenarnya kita bisa saja membahas hal lain dari teman-teman Tionghoa ini. Sebenarnya bukan cuma Tionghoa seh yang patut kita bahas, tetapi sebenarnya semua etnis di Indonesia raya, secara kita kan diberkahi banyak etnis di Indonesia, kenapa kita tidak saling belajar satu sama lain dan mengambil hal-hal positifnya :)

Duh ngomongin Tionghoa jadi inget mantan yang dulu pernah gandengan tangan pakai seragam abu-abu putih, dia yang campuradukan jawa-tionghoa duh sekarang dimana ya hehehe... (luapakan!)

Tidak tahu kenapa, setiap mendengar China atau Tionghoa yang muncul di kepala adalah pedagang dan pebisnis. Setidaknya di daerah sekitar tempat tinggalku (Jogja) mayoritas pedagang adalah orang tionghoa. Kebetulan banyak teman-temanku juga adalah tionghoa, jadi sedikit banyak jadi tahu bagaimana lingkungan keluarga mereka. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa orang tionghoa lebih sukses dalam berdagang? meskipun orang jawa juga banyak yang sukses tetapi setidaknya tidak sebanyak orang tionghoa.

Courtesy of google

Dari pengamatan dan pengalaman pribadi sehari-hari aku sering banget membandingkan dua atau lebih toko atau sekedar warung jajanan. Mulai dari toko besi sampai penjual martabak manis. Muncul keinginan untuk tahu apa seh perbedaan antar toko tersebut. Kebanyakan toko/warung orang tionghoa lebih memuaskan dibanding yang lain. Mereka sangat terlatih dalam berjualan.

Ada tiga hal yang dilakukan oleh pedagang tionghoa tetapi kadang masih belum dilakukan oleh pedagang lain. Berikut ulasannya cekibrott...

1) Tidak banyak omong (chattering)
Courtesy of google

Pedagang tionghoa tidak banyak omong dan cenderung lebih mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan calon pelanggannya. Kesalahan pedagang yang banyak omong adalah mereka merasa tahu lebih banyak dibanding calon pelanggan sehingga cenderung lebih banyak menyampaikan ide katimbang mendengarkan.

2) Mengenal produk dengan baik
Courtesy of google
Kebanyakan pedagang tionghoa sangat mengenal produk-produk yang mereka tawarkan. Mereka sangat menguasai luar dalam produk yang mereka pasarkan. Kesalahan yang sering dilakukan pedagang lain terkadang belum mengenal dengan baik produknya sehingga tidak mampu memberikan representasi yang baik dari toko atau perusahaannya. Ini sangat buruk dampaknya, kredibilitas seorang penjual akan hancur jika tidak mengenal produk yang ditawarkan dengan baik. Bahkan sebuah toko material bangunan kecil dekat rumahku milik ibu-ibu tionghoa yang notabene hanya menjualkan produk dia sangat menguasai produk tersebut. waktu itu aku membeli bata ringan dan dia menjelaskan secara detail perbedaan tiap merk, kelebihan, dan kekurangan masing-masing.

3) Tidak menjelekkan dan menjatuhkan kompetitor
Dari beberapa kejadian yang aku alami berhubungan dengan pedagang tionghoa, sepertinya mereka tidak terlalu suka menjelekkan toko lain atau kompetitornya. Pernah suatu ketika aku sedang mencari sebuah kran air yang kebetulan kriteria kran yang aku cari tidak ada yang cocok di toko tersebut, kemudian si empunya toko menyarankan untuk pergi ke toko kompetitornya. Toko yang disebutkan ini bukan toko tionghoa, artinya mereka tidak ada niat untuk menjelekkan atau menjatuhkan toko lain. Kebanyakan mereka hanya menjelaskan perbedaan produknya dengan toko kompetitor tanpa memaksakan opini untuk membeli di toko mereka


Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa kita semua adalah penjual, dan alangkah baiknya jika kita bisa menghindari ketiga hal tersebut. Mungkin kita tidak jualan bakmi, martabak, atau material tetapi kita tetap butuh untuk menjual diri kita minimal pada calon mertua hehehe...

Semoga tulisan ini bermanfaat...




Comments